Nama ku Hisanah aku terlahir dari keluarga yang bahagia dan berkecukupan , memiliki ibu nan lembut, ayah yang bijaksana, aku merupakan anak tertua dari 3 bersaudara , Hasnah dan Hasyim nama kedua saudaraku. Hasnah adik perempuan ku yang sangat sering adu omong denganku maklumlah kami sama-sama cerewet, Hasyim adik laki-laki ku, yang akrab di panggil acim, dia berkulit putih , berpipi chubi, paling seneng nyubitin pipi ade ku yang ndut ampe nangis ampe d marahin ama ummi.
“Ana ayo bangun Allah sudah menyerumu untuk solat pagi ini!” seru ummi sambil mengusap rambutku yang lurus dan indah, seindah namaku Hisanah yang berarti cantik.
“Hmm, rasanya aku baru saja memejamkan mata mii , apa iyah udah pagi, Hoooamm,” jawab ku dengan keadaan setengah sadar.
“Huuuuss, anak perempuan ko menguapnya gak ditutup, ayo bangun ayah sudah menunggu kita untuk solat berjamaah!” Ajak ummi sambil menarik selimut yang melekat di tubuhku.
Aku terkenal paling susah bangun di kelurga ini paling rame, periang, dan ramah. Aku pun pasrah dan berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Seperti biasanya keluarga ku selalu menyempatkan berlibur disaat awal bulan hari libur, maklumlah ayah baru saja mendapat gajih .
”Ayah jadikan kita pergi hari ini?mau kemana yah? Tumben ayah masih santai baca koran?” Tanyaku dengan pertanyaan yang beruntun yang membuat ayah bingung untuk menjawabnya.
“Walah ndhoo nanya tuh yah satu-satu tohh , ayah jadi bingung jawabnya.” jawab ayahnya dengan logat khas jawa.
“Iya, jadi paling ke Kebun Raya Bogor,” jawab ayah meledek aku.
Udah ribuan kali aku kesana hhehe . Berlebihan yah pokonya udah hampir puluhan deh aku pergi kesana maklumlah Kebun Raya kan tempatnya deket , masih dalam kota.
”Hmmm bosen yah masa kesitu mulu sih , mending aku gak ikut deh kalo ke Kebun Raya lagi maah,” bantahku jutek sambil sedikit mamanyunkan bibirku.
“Lalu maunya kemana tooh na? Ayah sedang malas bawa mobil jauh-jauh.” tegas ayah yang masih sibuk dengan koran yang sedang dia baca.
“Yaudah Ana gak ikut palingan disana juga Hasnah ama Acim aja yang asik maen bola , masa aku ikut maen bola sih yah aku kan udah 16 tahun hampir 17 malah bulan depan, huu ayah tega.” Protes aku yang pada saat itu berfeeling kalo ikut bakalan gak asik, feelingku lebih dari itu sih sebenarnya, tapi mudah-mudahan aja gak terjadi apa-apa.
“Ummi juga gak ikut, katanya mau berexperimen sama adonan-adonan kuenya.”
“Yasudah kalo gitu aku bantu ummi aja nyicipin kue, hhehe ayah ama Hisna dan Acim ajah.” Jawab aku sambil melet ke arah ayah.
”Walaah ndhoo masa bantu nyicipin , gimana sih anak kesayangan ayah ini, yoo bantu masak too , ntar suami mu mau d kasi makan apa klo kamu gak bisa masak.” Gerutu ayah sambil meledek aku yang memang paling gak suka sama hal yang berbau dapur , kalo yang keluar dari dapur suka banget. Kenapa aku jadi sedih yah denger ucapan ayah tadi serasa wejangan terakhir dari ayah gituh, hushus jangan ngaur ahh, aku bergegas meninggalkan ayah menuju dapur menemui ummi.
“Ummi tumben gak ikut ayah?” tanyaku menghampiri ummi yang lagi sibuk di dapur.
”Ummi semalem mimpi buat kue , tapi anehnya setelah ummi buat kue ko nangis yah di akhir mimpinya, makanya ummi jadi kepingin buat kue yang sepesial buat ayahmu, kamu, Hasnah dan Acim,” cerita ummi sekilas tentang mimpinya semalam
“Oooh bgtuh yah mi, kalo udah mateng panggil aku yah mii aku mau baca novel dikamar” jawab aku sambil meninggalkan ummi menuju tempat terindah yaitu kamarku.
“Anna yakin gak mau ikut ayah, Hisna dan Acim, ayah tinggal yah?” tanya ayah dari luar kamar ku.
“Ngak akh yah bosen aku ke Kebun Raya melulu,” jawabku dari dalam kamar, entah mengapa aku sedih saat ayah berpamitan pergi. Aku melanjutkan lantunan lagu yang terpotong barusan dengan pertanyaan ayah,
Kau tak tahu apa rasanya ditinggal pergi
Jika saja kau rasakan
Kau takkan mapu menahan sakit seperti ini
Jikasaja kau menjadi aku
“Auu sakit” lidah ku tergigit saat aku tengah melantunkan lagu tersebut dari headsetku,
“Aneh kenapa bisa kegigit yah , padahal aku kan cuma nyanyi” gerutu ku merasa heran,
“Yasudahlah mungkin aku terlalu menghayati lagu let’s play Jika Kau Menjadi Aku barusan, akupun melanjutkan baca novel yang berjudul SEPARUH BINTANG yangmasih sektar 200 halaman lagi.
Terdengar suara piring pecah , aku meninggalkan kamarku , dan menghampiri suara tersebut, sepertinya dari dapur, pasti ummi.
“Kenapa mii?” tanyaku khawatir “Ndak tau ummi , sewaktu ummi lagi melelehkan coklat tiba-tiba piring jatuh dari meja” jawab ummi bingung dengan kejadian ini.
“Mungkin angin kali mii “ jawab ku, walaupun mana mungkin ada angin dalam rumah yang bisa bikin piring jatuh, dari pada mikir yang tidak-tidak. Ummi pun segera membereskan pecahan piring tersebut.
TELELETTELET Suara telepon rumah berbunyi, saat aku bergegas mau mengangkat telepon itu ummi berkata “Biar ummi aja yang angkat kamu lanjutkan aja bereskan pecahan piring ini, tapi hati-hati !”
Aku mengangguk dan melanjutkannya dengan penuh kehati-hatian,
“aaauuuuu “ triaku pelan, cairan merah keluar dari kulitku karena pecahan piring yang tajam, saat aku sedang menghisap jariku terdengar suara teriakan ummi yang histeris, aku segera menghampiri ummi,
“Ada apa ummi, ko Ummi menangis? Siapa yang telepon barusan? “ tanyaku khawatir, pikiran ku langsung tertuju pada ayah dan adik-adikku , ummi masi histeris dan belum menjawab pertanyaanku aku belum pernah meliat ummi seperti ini aku malah mengira ini bukan ummi setauku ummi itu tegar dalam menghadapi setiap cobaan waktu almarhum nenek meninggal saja ummi sedih tapi tidak sesedih ini,
“Ummi , jawab mii ayah,hasnah dan acim baik-baik saja kan mii? Ini semua gak ada hubungannya ama mereka kan mi?” Ummi berusaha untuk tenang.
“Ayo ikut ummi sekarang cepat pakai jilbab mu, ummi mau ambil motor di garasi, ummi tunggu di depan gerbang.”
Dengan segala rasa penasaranku yang kini ada dipikiranku, aku bingung, aku takut, dan aku tidak siap mendengar crita ummi , belum juga ummi menjawab ummi sudah meninggalkan aku mengambil kunci motor. Aku pun segera kembali kekamar untuk memakai jilbab.
“Ummi kita mau kemana? Kenapa ummi menangis?” tanya ku penasaran saat berada diatas motor yang di kendarai tanpa tau mau kemana tujuannya.
”Nanti ummi ceritakan” dengan singkat ummi menjawab, aku tau ummi sedang menangis kecil sekarang , tedengar dari suaranya yang berbeda tidak seperti biasanya. Aku tidak berani bertanya lagi aku hanya melamun memikirkan apa yang sebenarnya terjadi ini.
“Ayo turun” ajak umi, akupun terbangun dari lamunanku terpampang di depan ku plang bertuliskan rumah sakit PMI BOGOR , rasanya raga ini habis dijatuhkan dari bangunan yang sangat tinggi saat aku tau ummi membawa ku kerumah sakit.
“Permisi Mba, saya ingin menanyakan dimana korban kecelakaan beruntun yang baru saja terjadi?” tanya ummi kepada salah satu penjaga rumah sakit , mendengar pertanyaan ummi barusan seakan aku mendapatkan jawaban mungkin ayah kecelakaan, detak jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya ketika mendengar itu.
”Apa anda kluarganya?”,tanya peugas rumah sakit.
“Iya saya kelurga dari Bpk.Haazim Makarim, suami saya mengunakan mobil Toyota Avanza berwarna silver” jelas ummi kpada petugas.
Setelah menemukan datanya petugas itu mengatakan,
“Korban yang berada didalam mobil terdiri dari seorang pria dewasa dan 1 orang anak laki-laki dan 1 orang anak perempuan , apa itu keluarga yang ibu cari?” mungkin yang di maksud petugas tadi itu , ayah,Hasnah dan Acim, ummi hanya mengangguk, petugas itupun memberitahu bahwa korban berada di kamar mayat sedang di otopsi.
Aku langsung memeluk ummi dengan erat tidak pecaya dengan semua kenyataan yang ada dihadapanku sekarang, ummi membalas pelukanku dan berkata “Menangislah nak, tangisanmu akan sedikit membayar rasa sedihmu ,kalo kau sudah siap menghadapi kenyataan ,baru kita akan menghampiri ayah dan adik-adikmu!”
Aku tak kuasa berkata apa-apa tak satupun kata keluar dari mulutku hanya tangisan dan air mata yang tidak berhenti mengalir yang ada menunjukan kesedihanku akan peristiwa ini.
***
Sudah hampir sebulan aku ditingalkan oleh ayah tercintaku, aku rindu kata-kata bijaknya, aku rindu saat aku bertengkar dengan Hasna , aku ingin mencubit pipi Acim , Yaa Allah mengapa engkau begitu tega kepadaku mengambil 3 orang yang sangat berarti dihidupku sekaligus . Sejak kejadian itu pula aku merasa dunia ini sudah benar-benar berakhir , aku tidak beraktifitas lagi, bahkan aku tidak pergi ke sekolah lagi, aku hanya mengurung diri di kamar , dengan pikiran kosong bahkan perutku kosong , ummi selalu mengirimkan makanan kekamarku , tapi aku selalu mebuang makanan itu tanpa sepengatuhuan ummi , aku hanya meminum segelas susu yang ummi berikan.
Aku benar-benar merasa Tuhan tidak adil, sempat berpikir aku ingin menusul mereka, tapi bagaimana dengan ummi.
Saat aku membuka mata ternyata aku berada dirumah sakit, kondisiku sangat lemah saat ini, ummi sedang tertidur memegang erat tanganku dengan bekas linangan air mata dipipinya.
Ummi menyadari aku telah sadar dari koma ku yang tak aku tau sudah berapa lama aku terbaring disini.
“Ana kamu sudah sadar?” ummi memeluku erat , pelukan ini mengingatkan saat ummi memelukku ketika aku telah tau orang yang kusayang telah tiada , tapi pelukan ini terasa lebih erat di bandingkan dengan pelukan ummi ketia itu. Aku hanya bisa menangis saat ummi memeluku, aku tersadar aku mash punya ummi yang begitu sayang padaku, aku tersadar bahwa cobaan ini belum seberapa dibandingkan seorang anak yang benar-benar ditinggal oleh semua keluarga dan hidup sebatang kara. AKU MASIH PUNYA UMMI.
***
Kini aku sudah beraktivitas seperti biasa aku sudah mulai masuk sekolah , teman-teman di sekolahku langsung memeluku saat aku datang , apalagi Syabila sahabatku tiada henti-hentinya dia menatapku heran, yang konon berita yang Syabila tau Hisanah sahabatnya sudah menjadi mayat hidup, kini telah hadir kemabli dengan sejuta keriangan, sejuta senyuman, sejuta kebahagian. AKU MASIH PUNYA TEMAN DAN SAHABAT !!.
Hari ini bertepatan tanggal 4 April , hari ulang tahunku . Ummi sudah menyiapkan kue kemarin sore untuk aku bagikan hari ini keteman-teman sekelas ku.
HAPPY BIRTH DAY ANA...
HAPPY BIRTH DAY ANA...
HAPPY BIRTH DAY...
HAPPY BIRTH DAY...
HAPPY BIRTH DAY ANA...
Secara serentak teman-temanku menyanyikan lagu itu, terharu dan bahagia rasanya mendengar itu.
Betapa bodohnya aku selama ini tidak merasakan kehadiran orang-orang tersayangku, betapa sedihnya ayah,Hasna, dan Acim melihatku kemarin-kemarin dari alam sana , dan yang paling penting AKU MASIH PUNYA ALLAH!!! yang selalu menemani setiap langkahku, berada dihatiku , maafkan hambamu ini Yaa Allah , aku janji aku tidak akan sedih lagi, aku mau mengejar cita-citaku trimakasih Allah , trimakasih orang-orang tercintaku. Aku doakan Ayah, Hasna, dan Acim tenang di alam sana dan suatu saat nanti kita bisa bersatu dan bertemu kembali .
Dewi Jani